Sengketa Tanah Puyang Regunjung Terus Bergulir

Listen to this article

 

Plt Kepala Kanto Badan Pertanahan Kota Prabumulih Edison, S.H., M.Hum, saat ditanya perihal sengketa tanah Puyang Regunjung yang sempat viral baru-baru ini, apa pandangannya, beliau menjelaskan.

“Perihal masalah di jungai. Dalam suratnya yang kami ketahui terdata ada 40 ha, dan kami sudah menyurati pihak kepala desa minta ditunjukkan lokasi yang bersangkutan, namun dalam mekanisme UU no 2, tahun 2012, tentang pengadaan tanah, dijelaskan ada masa sanggah 14 hari, apabila lewat dari 14 hari belum ada keputusan, maka pekerjaan akan tetap dilanjutkan. Pada prinsipnya kepada pihak yang bersengketa negara punya tanggung jawab. Selasa (27/10/2020)

Apabila belum ada perdamaian maka negara tetap membayar persil atau membayar bidang tanah yang dipersengketa kan, dengan cara menitipkan uang ganti kerugian tersebut ke pengadilan.

Apabila mereka bersengketa dan siapa yang menang silahkan ambil di pengadilan, atau jika dalam prosesnya mereka berdamai. Maka bisa dilakukan pengajuan dana tersebut untuk bisa dicairkan.” Paparnya kepada awak media.

Masih mengenai sengketa lahan yang melibatkan dua keluarga satu rumpun dari anak cucu puyang Regunjung. Kami sempat berbincang singkat dengan Plt Camat Rambang Kapak Tengah (RKT)

Pernyataan Plt Camat RKT

Menurut Plt Camat RKT, Satria karsa, S.E bahwa menurut Kades jungai Iskandar Z. Masalah tersebut sudah terselesaikan. Dan meminta kami untuk mengklarifikasi langsung kepada Kepala Desa Jungai.

“Hal ini menurut pak Kades sudah diselesaikan antar mereka, nanti silahkan dikonfirmasikan dengan kades, yang pasti jika memang ada perselisihan, sebagai cara pembuktian itu dengan surat tanah, kalau cuma pengakuan saja ya gak bisa, namanya itu mengada-ada. Tentu nantinya akan ada tindakan hukum yang akan menanganinya.

Untuk warga masyarakat semuanya, kami juga meminta agar jika ada permasalahan bisa diselesaikan dengan baik, dan tetaplah kita sama menjàga agar RKT tetap aman-aman saja.

Terkait covid-19, tak henti-hentinya kami berpesan, tetap utamakan protokol kesehatan, pakai masker saat melalukan aktivitas, dan jagalah kebersihan,” ungkap Satria Karsa.

Kapolsek RKT Ipda Budiono, mengatakan. Kalau belum ada warga yang mengadu tentang sengketa lahan di Jungai.

“Belum ada laporan dari warga tentang sengketa tanah ini, mungkin mereka langsung laporan ke polda, jika memang ada sengketa perihal tanah, sebaiknya diselesaikan secara hukum, dan kita akan alur kan, kita ini kan negara hukum. Jika ada yang melakukannya diluar jalur hukum, maka kami pun tak segan-segan akan menegakkan hukum juga.” Ungkap Kapolsek RKT.

Penjelasan Kades Jungai

Pernyataan Kepala Desa Jungai, Iskandar Z. Saat kami bincangi, beliau mengatakan kalau sengketa itu antara keluarga, antara Darwansyah dan Aswan Asnun. Dan memang benar kabar kalau kades pernah dipanggil ke kapolda untuk menjadi saksi.

“Untuk masalah sengketa tanah nenek Regunjung, (itu nenek aku, Regunjung tu kata kades) kalau menurut cerita mereka ya, mereka itu punya lahan, namun pada saat itu saya juga belum lahir, dijaman belanda dulu.

Yang menggugat itu namanya Aswan Asnun, sedangkan usianya sudah 70 tahun lebih, kalau logikanya kita merdeka saja baru 75 tahun, kata Aswan Asnun ini, tanah itu punya neneknya, punya bapaknya saja masih jaman perang belanda.

Tragedi Pembunuhan di Diva Karaoke

Sedangkan mereka ( pihak keluarga Aswan Asnun.Red) tidak bisa membuktikan dengan surat menyurat. Mereka tidak punya surat secuilpun.

Mereka pernah meminta saya membuatkan surat, saya katakan saya mau membuatkan surat, tapi tolong beri tahu kami batas-batas tanah tersebut, namun mereka tidak bisa menunjukkannya.

Katanya dia lupa dimana letak tanahnya. Bukan berarti kami tidak mau membantu, kami adil terhadap masyarakat, dan tidak ada intimidasi terhadap siapapun.

Sedangkan yang tergugat yakni pak Darwansyah punya surat yang didapat dari hasil membeli. Perlu diketahui dari 48 warga yang mendapat ganti kerugian ini tidak ada nama dari pemilik tanah yang sedang sengketa itu, baik atas nama Puyang Regunjung atau nama pak Darwansyah.

Majelis PAC Pemuda Pancasila

Anehnya lagi waktu pertama mereka mengatakan kalau tanah mereka 80 hektar, namun akhirnya turun ke 42 hektar,dan terakhir 40 hektar. Kalau mereka benar tau luas tanah mereka, artinya mereka juga tau letak tanahnya dimana, sebaiknya pak Aswan itu pasang patok dimana yang dianggap tanahnya,” ungkap kades Iskandar.

Sudah ada laporan ke Polda

Saat ditanyakan perihal pemanggilannya ke Polda, Iskandar mengatakan memang benar adanya saya dipanggil ke Polda namun pihak Polda juga bingung mengenai ini.

“Benar kami pernah dipanggil untuk dijadikan saksi, dan kami hanya mengatakan sebatas yang kami ketahui, dan pihak Polda pun bingung dengan sengketa ini, dan saya sampaikan jika memang ada bukti saya memfasilitasi pembuatan surat bagi bapak Darwansyah, silahkan saja di cek jika ada saksi dan bukti.

Kalau pak Asnun bisa membuktikan itu tanah mereka, silahkan mereka berperkara dengan saya.” Pungkas Iskandar memaparkan secara detil.

Saran dari salah seorang tokoh masyarakat

Seorang warga yang sempat kami bincang yakni Edi Yusuf mengatakan bahwa memang benar adanya sengketa tanah keluarga itu.

“Sebenarnya itu masalah keluarga, bermula dari Asnun menitipkan tanah itu kepada orang tuanya Darwansyah, saat Aswan Asnun ini bekerja di Lampung, dan setelah itu maka terjadilah sengketa ini.

Alangkah lebih baiknya jika ada itikad baik dari pihak keluarga Darwansyah, berdamai sajalah, mereka juga masih keluarga,” ucap pak Edi Yusuf menjelaskan, beliau juga mengatakan kalau orang tuanya adalah kriya (jabatan setara kades saat ini. Red) selama 36 tahun di Jungai, setelah puyang Regunjung.

Kami mencoba mencari warga yang bernama Darwansyah, namun menurut warga yang kami tanya, mereka belum hadir.

Pernyataan dari pihak keluarga Aswan Asnun mengatakan, silahkan saja kades mengatakan seperti itu, namun kami juga punya bukti dan saksi yang akan dipakai jika diperlukan.(Rasman Ifhandi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *