Bonsai, Tanaman Hias yang Makin Trendi di Kota Nanas

Listen to this article

PRABUMULIH. Lembayungnews|. Demam Bonsai sepertinya akan mewabah kembali di kota Prabumulih ini, setelah sebelumnya pada tahun 2018 yang lalu pernah diselenggarakan lomba Atau pameran bonsai di kota tercinta ini, yang memperebutkan piala Kajari. ( M Husein Admaja SH MH) Minggu (7/10/2018).

Dalam setiap obrolan bersama rekan-rekan, penulis sering mendengar pembahasan mengenai tanaman hias yang punya harga tinggi, atau pohon yang dikerdilkan ini. Bahkan ada beberapa teman sejawat yang berencana akan membuat taman Bonsai di sekitar tempat tinggalnya, meskipun kita tahu bahwa tidak sedikit modal yang harus dipersiapkan untuk sebatang Bonsai yang sudah ‘jadi’, apalagi kalau dia berminat membuat Taman Bonsai. Fantastis tentunya.

Seperti kita ketahui Bonsai adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan, sebagai pasangannya yakni Pot Dangkal atau Pot yang tipis tujuannya agar dapat menampilkan bentuk miniaturnya sebuah pohon, apalagi pohon yang berakar kuat atau berakar tunjang. Hingga kesan alamiah dapat ditampilkan maksimal, bergaya Pohon Besar yang sudah tua namun dengan bentuk dan ukuran mini.

Istilah Bonsai sendiri kalau kita googling di internet, yakni berasal dari kata Bon (Pot Dangkal) dan Sai (Menanam Pohon). Pada seni tradisional jepang istilah Bonsai juga dipakai dalam pemeliharaan tanaman atau apresiasi keindahan dari bentuk dan gaya dahan, batang, daun, dan akar sebuah pohon. Mereka menyebutnya Penzai.

Baca juga

■ Bantuan Gerobak dan Etalase

Dengan banyaknya jenis pohon yang ada di Sumatra Selatan ini, tentu dapat memberi peluang bagi para pencinta tanaman mahal ini. Atau juga bagi para penggiat yang ingin menjadikan Bonsai ini sebagai salah satu bentuk usaha, tentu sangat menjanjikan, karena kita ketahui warga kota ini adalah warga masyarakat yang mencintai seni.

Baca Juga:

■ Penyerahan Bantuan 100 Etalase dan 25 Gerobak Bagi Pedagang Keliling dan Kuliner Kota Prabumulih

■ Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Cabang Fatayat NU Prabumulih

Dilihat dari seringnya obrolan tentang Bonsai di setiap pertemuan dengan rekan-rekan sejawat, bukan tidak mungkin Kota Prabumulih ini nantinya akan menjadi salah satu kota tujuan wisata tanaman Bonsai. Semakin banyaknya Komunutas-komunitas pencinta Bonsai, atau juga para pemburu bakalan Bonsai, bukan tidak mungkin menjadi indikator bahwa Kota Nanas ini bisa saja berubah sebutannya menjadi ‘Kota Bonsai’. May be..

Ada beberapa kriteria tanaman yang dapat menjadi acuan bagi para pencinta Bonsai ini, seperti tekstur pohon yang keras, dan dapat bertahan dalam waktu yang lama serta ber usia panjang, daunnya yang dapat terlihat tua dan berukuran kecil, akar tunjang yang banyak, yang dapat menciptakan kesan tua pada sebuah pohon, dan banyak lagi yang lainnya. Boleh ditambahkan jika berkenan.

Jenis Bonsai yang menampilkan keindahan pohonnya yakni Pinus, Cemara Cina, Tusam, Asam, Sugi dan lain-lain

sedangkan yang menampilkan keindahan bunganya adalah, Sakura, Kemuning, Adenium, Azalea Bougenville, dan tentu masih banyak lagi jenis pohon berbunga yang dapat dijadikan Bonsai.

Lalu ada juga pohon Bonsai yang menjadikan buahnya sebagai target utama untuk mempercantik tampilannya seperti Kesemek, Apel Mini, Anggur, Delima, Jambu Biji, Murbei, serta masih banyak pohon serupa yang berpotensi dapat menjadi Bonsai idola penikmat tanaman kerdil ini.

Ada juga Pohon yang dijadikan Bonsai karena bentuk daunnya yang unik, seperti Asam, Serut, Beringin, Cemara, Anting Putri, dan lain-lain. Ada ratusan bahkan ribuan jenis pohon yang dapat dijadikan Bonsai, tinggal bagaimana para seniman Bonsai menjadikan sebuah pohon yang biasa-biasa saja, menjadi luar biasa. Seperti Seniman Bonsai yang sudah mendunia, seperti Masahiko Kimura (Jepang), Ben Oki (Jepang), Quinquan Zhao (China Tengah), Lindsay Bebb (Australia), Robert Steven (Indonesia), atau Jhon Naka (Amerika).

Berbagai istilah Bonsai pun sering kita dengar dari para pencintanya, seperti Chokkan, Moyogi, Shakan, Fukiganashi , dan lain-lain yang akan kita bahas pada artikel selanjutnya.

Sebuah keberhasilan jarang sekali terjadi dengan waktu yang singkat atau instan, seperti layaknya pencinta Bonsai. Untuk menjadikan sebuah pohon menjadi berharga tinggi, tentu butuh waktu yang lama dan proses yang panjang. Semua itu membutuhkan kesabaran dan keahlian yang membuat sebuah karya menjadi Luar Biasa. (Rasman Ifhandi)

Dikutip dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *