Berkah di Musim Susah

Listen to this article

 

Kondisi perekonomian global yang makin terpuruk, mestinya tidak membuat kita hanya berpasrah diri dengan menghitung-hitung segala bentuk kerugian yang ditimbulkan oleh keadaan yang dialami oleh hampir seluruh insan. Atau cuma meratapi nasip dengan berkeluh kesah dan membiarkan waktu terbuang habis tanpa memberi faedah sedikitpun.

Firman adalah seorang buruh kontraktor disebuah perusahaan pengeboran minyak di kotanya, namun semenjak awal tahun 2018 lalu perusahaan tempatnya bekerja tidak lagi membutuhkan tenaganya, setelah 12 tahun dia bekerja di perusahaan tersebut, dan mulailah kehidupannya berubah drastis, dari menjadi buruh harian bangunan, atau menjadi kuli angkutan, tukang ojek, dan kurir pengantar barang dagangan ke desa-desa. Atau istilahnya pasar ‘Kalangan’

Namun semenjak situasi krisis melanda seantero bumi Indonesia, orderan tersebut pun makin berkurang, karena kebanyakan usaha terhenti, dan tak sedikit yang gulung tikar karena omzet penjualan mereka menurun. Baik pedagang makanan, pedagang alat-alat rumah tangga, atau pun pedagang kain dan pakaian. Semuanya mengalami kemerosotan total. Dan tentu Firman pun merasakan efeknya, makin sulit dia dapatkan job mengantar barang, atau juga pekerjaan sebagai buruh bangunan, karena hampir semua sektor pembangunan dihentikan demi mengatasi wabah yang melanda.

Hidup harus terus berjalan pikirnya, dan juga dia masih mempunyai tanggungan, yakni putri bungsunya yang baru saja ikut kuliah di sebuah UT di kota kecilnya.

Berawal dari obrolan santai dengan rekan-rekan senasipnya, Firman melihat sebuah peluang terbuka lebar. Sore itu sambil menikmati kopi hangat di warung bu hanif, tempat biasa nongkrongnya para tukang ojek, Edy temannya yang juga jadi korban PHK menceritakan kalau akhir-akhir ini, ibu-ibu pegawai pemerintahan kota banyak berburu bunga, bahkan sudah ada beberapa kelompok persatuan dari mereka yang setiap minggunya hunting mendatangi para penjual bunga disudut-sudut kampung.

“Fir, sekarang ini lagi heboh lho, ibu-ibu pegawai pemkot dan persatuan ibu-ibu PKK berburu bunga dan pot bunga yang antik, kamu kan bisa tuh bikin pot bunga unik. Dan kulihat kamu juga rajin menanam berbagai macam bunga, cobalah dikembangkan Fir, mungkin saja bisa jadi penambah income,” ujar Edy sembari menyeruput kopi hangatnya.

“Wah yang bener Ed?” Tanya Firman bersemangat

“Ya bener lah, kamu cari saja infonya, kalau sabtu dan minggu sore, mereka pasti berkumpul di depan kantor polsek lama, di taman bunga pinggir jalan itu,” terang Edy

“Bagus juga tuh, coba nanti saya cari infonya Ed, karena kamu tau sendirilah bagaimana penghasilan dari ngojek ini,” Firman seakan mendapat kekuatan baru setelah mendengar cerita dari temannya ini

dan mulailah dia lakukan survey dan investigasi langsung tentang kabar yang didapat, dan ternyata memang benar. Karena kondisi saat ini, dan ada peraturan baru untuk kerja di rumah saja, para ibu-ibu pegawai itu mencari kegiatan positif dengan merombak halaman rumahnya yang selama ini terbengkalai.

Mulailah mereka berburu berbagai macam bunga, serta memesan berbagai macam bentuk vas bunga pada para pengrajin. Ini sebuah peluang besar bagi Firman yang memang cukup ahli dalam membuat vas bunga berbagai bentuk dan ukuran, berbagai bahan digunakannya, sesuai dengan pesanan yang masuk. Salah satu yang paling banyak digemari oleh para ibu-ibu adalah vas bunga dari bahan ambal, atau handuk bekas.

Orderan pun mulai berlimpah, tak sempat lama dipajang di halaman rumahnya, pot-pot cantik itu pun laku terjual. Harga yang variatif dan model yang bisa mengikuti pesanan konsumen, membuat Firman saat ini cukup dikenal di kotanya sebagai pengrajin vas bunga dan juga sebagai penjual berbagai macam bibit bunga. Vas bunga yang dibandrol dengan harga 15 ribu, sampai 150 ribu itu, menjadi sebuah berkah dimusim susah.

**

Sosok Ayah adalah orang yang harus rela menelan bara demi buah hatinya, menerjang badai untuk masa depan anak-anaknya, membunuh rasa enggan, membuang rasa malu, semua dilakukan agar putranya dapat menggapai cita-cita.

Terkadang seorang ayah menahan jatuhnya air mata, menutupinya dengan senyum merekah sembari membusungkan dada.

Dalam hati ia berujar, biarlah dunia menyangka aku tegar, tanpa resah tanpa duka, tanpa kepedihan meski jantung harus terbakar

Atau biarkan semua mata menilaiku kuat, walau terkadang kepiluan menyayat, namun biarkan lah.. biarkan semua menjadi rahasiaku dan Tuhan.

Prabumulih, Sumatera Selatan

Tulisan ini mendapat juara 3 pada saat awal musim pandemi. Perlombaan pada sebuah group menulis yang diadakan oleh beberapa penulis ternama negeri ini, dengan tema Motivasi di Musim Pandemi.

Rasman Ifhandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *