KAMAL TSG: Hidup Dalam Dunia Hitam Bukan Sebuah Kemauan Namun Karena Keharusan

Listen to this article

PRABUMULIH. Lembayungnews|. Catatan Biografi singkat Inhar Kamaludin yang kita kenal juga sebagai Pemilik LSM Tiga Saudara Group (TSG) yang juga sebagai Perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan/rental alat berat, dan penyedia material batu split dan lain-lain.

Dan saat ini Kamal juga sebagai Komandan Komando Inti Mahatidana Pemuda Pancasila Kota Prabumulih. Terlahir di Prabumulih pada tanggal 28 Oktober 1978 yang saat ini sudah berusia 43 tahun, di karuniai 3 orang anak, dan seorang istri bernama Yurni Wati.

Sebagai anak ke 5 dari 7 bersaudara, yang terlahir di tengah-tengah keluarga kurang mampu. Dengan pendidikan formal yang hanya sampai kelas 2 SMP Kamal mulai mencari pekerjaan yang dapat menghasilkan uang, apapun dilakukan asal itu menghasilkan fikirnya. Dari menjadi kernet mobil ekspedisi rute Palembang-jakarta.

Selama kurang lebih setahun itu Kamal akhirnya mengenal 3 orang yang dikenalnya sebagai sebagai Preman jalanan. Dan mulailah dia mengikuti pola kehidupan mereka, mencari uang mudah, dengan jalan apapun. Bergelut di dunia hitam demi keinginan mendapatkan uang. Dari kota satu ke kota lain niatnya cuma satu yakni ingin merubah nasip yang selama ini tidak berpihak padanya.

Namun Tuhan berkata lain, sebelum Kamal lebih jauh masuk ke dunia hitam, dan sebelum makin banyak dosa dilakukan, dia dipertemukan dengan seorang wanita yang telah membuatnya menyadari kalau kehidupannya saat itu adalah salah.

Dengan rasa cinta yang mereka miliki, Kamal pun mempersunting Yurni Wati, menjadi istrinya. Mulailah mereka menjalani kehidupan berumah tangga yang penuh kekurangan dalam hal ekonomi. Kamal bertekad akan melakukan apa saja sepanjang itu perbuatan halal, dia mulai menjadi Kuli bangunan, dan menjalani hidup sebagai petani dengan tinggal di talang atau di kebun, profesi Petani Karet di lakoni bertahun-tahun, namun lagi-lagi dia belum menemukan pekerjaan yang cocok baginya.

Sampai pada suatu saat dia pun memutuskan untuk kembali ke kota, karena keinginannya mengubah nasip. Lalu dia mencoba membuka bengkel Tampal Ban di simpang 3 Tanjung Rambang. Dengan menumpang tanah seorang warga di sana, tapi apa yang menjadi harapannya dan keinginannya tak jua dapat terwujud. Akhirnya dia menutup bengkel Tampal Ban itu.

Dengan berbagai macam pekerjaan yang dilakoninya itu, dan pernah berkenalan dengan orang-orang yang hidup dan besar di jalanan, Kamal mencoba kembali merintis usaha mengisi material bangunan kecil-kecilan, dia pun mencoba memulai profesi baru sebagai sopir Dump Truck di tahun 2009.

Lagi-lagi kehidupan memang harus penuh perjuangan, dalam usaha mengisi material dan menjadi supir dump truck itu, dia mendapatkan banyak tantangan. Salah satunya yakni ketika itu di tahun 2010 mobil angkutannya di hadang oleh preman jalanan di Jalan Lingkar atau disebut juga Jalur Gaza.

Saat itu 6 mobil angkutannya di hadang saat mau mengirim pasir ke desa Tanjung Menang melayani sebuah proyek pembangunan. Para preman itu meminta jatah uang yang sangat besar kepada para supir mobil yang di sewanya. Mendengar kabar tersebut Kamal turun ke lokasi dan mencari tau apa maunya mereka, dan saat bertemu hampir terjadi peristiwa berdarah, dia pun sudah siap dengan segala konsekuensinya.

Akhirnya setelah kejadian itu dia dapat berkenalan dengan pimpinan kelompok preman yang menghadang mobilnya yang di ketuai oleh TY. Dan mereka pun menjadi sahabat, dan mulailah Kamal membanting stir mengajak teman barunya itu untuk membuat LSM Tiga Saudara Group (TSG) dan menjadi keamanan bagi armada angkutan yang lewat di jalur Prabumulih-Palembang. LSM yang sempat besar dengan anggota sebanyak ribuan orang.

Seiring berjalannya waktu Kamal pun berinisiatif untuk membuat perusahaan atas nama TSG GROUP itu, dan mulailah dia menjalani kehidupan yang mulai membaik, hubungan dengan perusahaan-perusahaan pun mulai terjalin, dan makin banyak Job yang diperolehnya. Sampai akhirnya Allah memberikan jalan rejeki yang sangat luar biasa jika dibandingkan dengan kehidupannya dahulu. Kamal mulai mempunyai beberapa alat angkutan berat sendiri, dengan Hasil usaha yang di rintisnya.

Bahkan Kamal pun sudah bisa mewujudkan impiannya untuk membangun sebuah Masjid, dengan rejeki yang di diperolehnya.

Mengenal dan bergabung dengan sebuah organisasi berskala nasional yakni Pemuda Pancasila adalah jalan cerita baru baginya.

Saat ada proyek besar masuk di Kota ini, yakni proyek pembuatan Jalan Tol, Inderalaya-Muara Enim, Kamal berkeinginan agar dia dapat menjadi mitra dari perusahaan Waskita Karya. Dengan kedudukannya sebagai Komandan Komando Inti Mahatidana dia berharap dapat menghantarkan keluarga dan sahabat-sahabatnya dapat juga merubah nasip dan mendapatkan rejeki dari usahanya.

Dan apa yang diharapkannya itu rupanya terwujud, mulailah dia menjadi mitra dari perusahaan besar tersebut, dia dijadikan Humas lapangan. Namun tentunya bukan hal mudah dalam menjalani amanah itu, banyak yang tidak suka dan memusuhinya, meskipun dia tidak pernah menganggap mereka musuh. Karena semua yang dia dapatkan dari hasil usaha dengan bergerilya, menghadapi berbagai rintangan dan halangan.

Setelah dia dapatkan kesempatan bekerjasama dengan proyek besar itu, dia pun mengajak rekan-rekan anggota KOTI masuk juga ke dalam perusahaan tersebut, dengan catatan jangan pernah lakukan hal-hal kriminal, dan jangan pernah berbuat melanggar hukum, baik hukum negara maupun hukum agama.

Dan sampai saat ini rintangan itu terus berdatangan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, bahkan permainan mistis pun mulai di jalankan untuk meruntuhkan apa yang sudah dibangunnya. Ancaman demi ancaman diperolehnya, yang tujuannya ingin menghilangkan nyawa.

“Saya berharap agar orang-orang yang mencoba meruntuhkan apa yang sudah saya dapatkan ini dapat menyadari bahwa apa yang saya dapat sekarang adalah hasil dari sebuah perjuangan. Saya bukan siapa-siapa, saya bukan orang hebat, saya hanya ingin merubah kehidupan saya, keluarga dan sahabat-sahabat saya dalam hal ekonomi, karena saya tau bagaimana kehidupan orang yang tak punya itu. Menjadi orang yang kekurangan itu sangat pedih. Namun saya berpasrah diri pada Allah Subhanahu wa ta ala, karena apapun yang saya miliki saat ini adalah rejeki dariNYA, namun, jika ada yang ingin merongrong semua apa yang saya peroleh dengan susah payah dengan cara yang tidak baik, saya KAMAL, tidak akan mundur setapak pun untuk mempertahankan hak saya, banyak yang tahu nama saya namun tak banyak yang tahu jalan kehidupan saya”

Artikel biografi ini bukan untuk mencari dan membuat permusuhan, namun sebagai inspirasi bahwa setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Sebagaimana pepatah arab mengatakan
Tarjuna jataa walam tasluk masaalikahaa, inna safiinata lan tajriya alal yaa baasii

Jangan lah kamu hanya berharap dan berkhayal saja, ingatlah bahwa kapal itu tidak bisa berlayar di padang pasir.

Segala sesuatu harus diusahakan agar dapat berjalan, tidak bisa hanya dengan berkhayal dan berandai-andai. (Raif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *