Cuma Tinggal Kenangan, Stasiun Kereta Api yang Dulu Pernah Menjadi Rumah Kedua Pedagang Asongan

Listen to this article

PRABUMULIH. Lembayungnews|. Stasiun Kereta Api Kota Prabumulih, yang dibangun kisaran tahun 1911-1917, oleh para tentara belanda yang pada saat itu membuat jalur rel kereta api dari Kertapati ke Tanjung Karang, dan jalur Muara Enim. Sudah beberapa kali dilakukan perombakan bentuk bangunan stasiun kereta api ini, dari masa penjajahan belanda sampai dengan sekarang. Dan bukan hanya itu saja nama perusahaan kereta api atau yang membangun jalur rel pun sudah sering berganti.

pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) lalu saat pemerintah hindia belanda menyerah kepada Jepang, sejak itu nama perusahaan perkereta apian indonesia pun berubah menjadi Rikuyu Sokyuku (Dinas Kereta Api) lalu saat indonesia mempoklamirkan kemerdekaan pada tahun 1945, maka perusahaan kereta api diambil alih pada taanggal 28 September 1945 ( ini menjadi hari ulang tahun perkereta apian indonesia). Lalu dirubahlah namanya menjadi Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Saat belanda datang lagi ke indonesia pada tahun 1946 berubah lagi namanya menjadi Staatssporwegen/ Verenigde  Spoorwegbedrif (SS/VS).

 

 

Tahun 1947 aktivitas di stasiun kereta api prabumulih.

 

Berdasarkan perjanjian damai Konfrensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949, dilaksanakan pengambilalihan aset-aset milik pemerintah Hindia Belanda. Pengalihan dalam bentuk penggabungan antara DKARI dan SS/VS menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) tahun 1950. Pada tanggal 25 Mei DKA berganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Pada tahun tersebut mulai diperkenalkan juga lambang Wahana Daya Pertiwi yang mencerminkan transformasi Perkeretaapian Indonesia sebagai sarana transportasi andalan guna mewujudkan kesejahteraan bangsa tanah air.

Selanjutnya pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) tahun 1971. Dalam rangka meningkatkan pelayanan jasa angkutan, PJKA berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) tahun 1991. Perumka berubah menjadi Perseroan Terbatas, PT. Kereta Api (Persero) tahun 1998. Pada tahun 2011 nama perusahaan PT. Kereta Api (Persero) berubah menjadi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dengan meluncurkan logo baru.(dikutip dari situs resmi PT. KAI)

Dulu, pada periode tahun 1970-2000-an Stasiun Kereta ini adalah salah satu tempat tumpuan mencari nafkah bagi masyarakat sekitar, terutama warga Karang Raja Kecamatan Prabumulih Timur. Selain itu di lingkungan stasiun ini banyak juga tempat-tempat hiburan, dan tempat nongkrong sehabis mengumpulkan receh dengan segala profesi mereka.

Anak-anak sedang bermain di gerbong kereta yang sedang diparkir tak jauh dari stasiun.

 

Tak jauh dari stasiun kereta ini, ada bioskop Palapa, yang khusus memutar film laga dan drama, baik film mandarin atau pun indonesia, dan setiap ada film yang baru, maka para tim account management atau bagian advertising mulai beraksi. Mereka biasa ber-iklan disepanjang jalan Jendral Sudirman, menggunakan toa sebagai pengeras suara dan mengendarai mobil pick-up berkeliling sambil terus menawarkan kepada masyarakat kota ini untuk hadir ke bioskop. Sesekali mereka bernyanyi-nyanyi menggugah hati masyarakat yang haus akan hiburan.

Demi mendapatkan sebuah hiburan, yang pada masa itu bioskop adalah tempat hiburan paling favorit dan berkelas. Maka tak jarang mereka harus menyisihkan uang belanja, menyiapkan budget puluhan ribu rupiah, saat itu HTM atau harga tanda masuk bioskop-bioskop kota ini berkisar di harga 5.000-7.500 perorang. Seperti yang pernah media ini tulis, ada empat bioskop yang pernah jaya di kota ini. Bioskop Nasional, Bioskop Palapa, Bioskop Ria/King, Bioskop President.

Stasiun Kereta Api ini, layaknya Chinatown-nya prabumulih, yang selalu ramai dikunjungi. Pedagang nasi uduk berjejer di sepanjang jalan depan stasiun kereta, pedagang bakso, rumah makan Bagelen, pangkalan nasi Ngapak, pedagang nanas ikatan, para kuli angkutan barang, preman-preman, para pedagang asongan, penjaga dan pengawas kereta barang, pedagang Nalo, dan juga SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah) para kupu-kupu malam, pengamen, pengemis, gelandangan, tuna wisma, calo-calo karcis kereta, pemain dadu, tukang sulap, bahkan orang gila pun ada di seputaran stasiun ini. Lengkap dan saling melengkapi.

Tak jauh dari stasiun ini ada beberapa losmen kelas melati, dengan harga yang sangat murah pada waktu itu. Losmen Kenangan, Losmen Rahayu Sentosa, Losmen Sederhana, dan Losmen Idaman. Namun ada juga beberapa losmen yang tidak bermerek yang menjanjikan berbagai ‘hiburan’.

Dan setelah memasuki periode tahun 2000-an ke atas, stasiun ini mulai lebih tertib, para pedagang asongan terlihat lebih rapi dan sudah lebih teratur serta jauh dari kesan kumuh. Meskipun penghasilan mereka tidak terlalu besar, namun stasiun ini sudah menjadi ‘kantor’ mereka, menjadi ladang dan sawah tempat mereka menanam dan menuai hasil yang sedikit, namun cukup untuk keperluan sehari-hari, untuk membiayai sekolah anak-anak mereka, bahkan ke jenjang universitas.

Mereka tak berharap menjadi kaya dengan menjual makanan khas stasiun ini, yakni Bongkol, Lemper dan Telor, tapi mereka hanya ingin ada pemasukkan setiap harinya untuk menyambung hidup. Jam kerja mereka adalah saat kereta penumpang masuk dan mengangkut penumpang dari stasiun Prabumulih ke Baturaja-Tanjung Karang, atau ke Muara Enim-Tebing Tinggi, kereta api Ekpress, Limek Sriwijaya, Serelo, dan Sindang Marga. Inilah patokan jam operasional mereka, dan dari penumpang kereta inilah mereka dapat mencukupi kebutuhan hidup yang dijalani.

Di sini apapun bisa jadi uang, siapapun orangnya bisa berpeluang mendapatkan penghasilan asal mau dan tidak malas. Inilah stasiun prabumulih dulu, sebelum semuanya berubah drastis dan menghilang bagai ditelan bumi.

Para pedagang asongan yang menggantungkan hidupnya dari berjualan di stasiun ini, tiba-tiba harus menjadi pengangguran, semenjak dikeluarkannya larangan berdagang di dalam atau di luar kereta.

Puluhan pedagang menangis kehilangan mata pencahariannya, puluhan pedagang terdiam tanpa dapat berbuat apa-apa, mereka hanya bisa mengeluh dan meratapi nasip, mereka yang dulu menjadikan stasiun kereta ini sebagai rumah kedua mereka, kini rumah kedua itu seakan menjadi tempat asing yang begitu sakralnya sehingga tak sembarang orang yang bisa masuk dan lewat di sana.

Tempat yang dulu sangat akrab dan menjadi bagian cerita hidup mereka, kini berubah total, tak ada lagi yang dapat diharapkan dari bentangan ular besi yang dahulu selalu mereka lewati, tak ada lagi peluang rejeki dari auman suara klakson lokomotif yang ditekan oleh masinis saat menggandeng gerbong penumpang, atau pada getaran bumi kala moda transpotasi darat itu menghantam rel di atas pekarangan rumahnya. Semua menjadi luar biasa, semua tak lagi saling kenal, semua tergantikan dengan suasana kaku yang tak lagi bisa menjadi tumpuan mencari nafkah.

Memang tak bisa kita sangkal bahwa saat ini kereta api sudah menjadi alat transportasi yang nyaman, aman, teratur dan sangat rapi, dengan fasilitas yang makin ditingkatkan untuk para penumpang yang ingin berpergian baik ke jalur arah Tanjung Karang, atau ke Lubuk Linggau, sangat banyak perubahan positif yang dipersembahkan oleh PT. KAI saat ini, dan hal itu juga diakui oleh banyak masyarakat yang pernah menggunakan moda transportasi ini.

Peningkatan pelayanan yang sangat signifikan ini tentu bagaikan kepingan mata uang yang mempunyai dua sisi, dimana PT. KAI harus juga menciptakan peraturan baru demi kebutuhan kenyamanan para penumpang, namun di balik itu juga tentu tak semua orang menjadi puas atau merasa diuntungkan karenanya.

Kini semua hanya menjadi sejarah dan cerita untuk dicatatkan sebagai salah satu kisah bagaimana cara berjuang menyambung hidup.

Dan mungkin beberapa tahun atau berapa puluh tahun yang akan datang, rumah-rumah di sekitar rel kereta api ini akan digusur dan dihilangkan dari peta kependudukan, dan bila itu terjadi, tak akan ada orang yang dapat mencegahnya. Karena mereka tak punya taring untuk menggigit, tak punya kuku untuk mencakar, tak punya kuasa untuk melawan dan membantah. Sebagaimana ‘Pedagang Asongan’ kereta api yang kini sudah dihapuskan dari peta sejarah Stasiun Prabumulih.(Hans/Raif)

Editor : Rasman Ifhandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *