Kecewa Atas Putusan Sidang Hari ini, Mulyadi KR: Pengadilan di Prabumulih ini Saya Anggap 'Kotor' - LEMBAYUNGNEWS

Kecewa Atas Putusan Sidang Hari ini, Mulyadi KR: Pengadilan di Prabumulih ini Saya Anggap ‘Kotor’

Listen to this article

PRABUMULIH. Lembayungnews|• Humas Pengadilan Negeri (PN) Prabumulih menjelaskan bahwa sidang praperadilan hari ini sudah dilaksanakan. Kedua belah pihak yakni pemohon dan termohon hadir dalam sidang tersebut. Rabu 05/01/2022.





Dalam sidang tersebut pun sudah dilakukan sidang pembacaan permohonan, dan tadi langsung atas permintaan pemohon sendiri untuk hasilnya kalau bisa dikeluarkan hari ini.

“Kita juga sudah koordinasi dengan Hakimnya Ibu Fitri Agustina, SH, dan beliau menyanggupi asalkan pemohon sudah ada saksi atau bukti surat yang mau diajukan,” Terang Norman Mahaputra, SH.

Selanjutnya Norman mengatakan bahwa dari pihak pemohon ada saksi namun tidak ada bukti surat yang diajukan. Sedangkan dari termohon tidak mengajukan saksi juga bukti surat.



“Jadi sudah selesai dibacakan putusannya sesuai amar yang nanti bisa juga dilihat di Sistem Informasi Penelusuran Perkara PN Prabumulih (SIPP) bahwa dari amarnya permohonan perkara praperadilan dari pemohon dinyatakan gugur,” ungkap Norman

Menurutnya lagi pertimbangannya dari KUHAP pasal 82 ayat I huruf D. Karena berkas perkara tersangka atas nama Cei Cahaya sudah dilimpahkan dan telah pula diperiksa terdakwa beserta saksi.

“Dengan berjalannya sidang perkara pokok maka sidang praperadilan amarnya menyatakan gugur,” tambahnya lagi.





Norman menambahkan lagi, berkas perkara sidang perkara pokok, dilimpahkan pada tanggal 30 Desember yang lalu.

Kuasa Hukum Termohon, AKP Darmanson dari bidang hukum Polda Sumsel mengatakan

“Sudah sama-sama kita dengar apa yang disampaikan oleh hakim bahwasanya praperadilan nomor 1 gugur dinyatakan berdasarkan pasal 82 ayat 1 huruf D, manakala ketika perkara pokok sudah mulai diperiksa oleh pengadilan maka perkara tersebut dinyatakan gugur. Ini juga merujuk pasal 102 MK tahun 2015 ketika perkara pokok sudah mulai disidangkan dan perkara praperadilannya dinyatakan gugur,” terangnya.





Ditambahkannya lagi bahwa tidak ada upaya hukum terhadap praperadilan ini mendasari dari Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No 4 tahun 2016 pasal 2 ayat 2. Bahwa perkara praperadilan ini melihat dan menilai dari sisi formil bukan materil perkara.

“Nanti untuk materilnya silahkan dibuktikan di pengadilan,” pungkasnya.





Mulyadi KR sebagai Kuasa Hukum Pemohon Praperadilan kasus tersangka pencurian dengan kekerasan (Curat) merasa kecewa dengan keputusan pengadilan hat8 ini yang menyatakan sidang praperadilan tersebut gugur.

“Menurut saya selaku kuasa hukum dari pemohon, bahwa praperadilan itu sebenarnya tidak gugur. Namun, digugurkan,” ungkapnya.

Ditambahkannya pula Mulyadi yang juga sebagai aktivis ini. Alasannya dia mengatakan itu karena sidang praperadilan tidak dibacakan oleh Hakim.

“Perkara praperadilan tidak dibacakan oleh Hakim, di saat yang bersamaan sidang pokok perkara juga berlangsung hari ini. Jadi menurut saya pribadi selaku kuasa pemohon, praperadilan tidak gugur, tetapi memang diduga ada unsur sengaja digugurkan,” tegasnya lagi mengulangi pernyataannya.





Masih kata Mulyadi, seharusnya praperadilan itu dibacakan dulu.

“Mestinya praperadilan apabila dibacakan oleh Hakim yang memimpin praperadilan itu, maka praperadilan itu sah tidak gugur,” itu yang menjadi persoalannya kata Mulyadi lagi.

“Dengan keputusan dari Pengadilan Negeri Prabumulih ini saya tidak puas dan merasa kecewa dengan digugurkannya praperadilan yang saya mohonkan,” tegas Mulyadi.

“Terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh oknum kepolisian prabumulih timur. Akan saya laporkan ke Mabes Polri, sampai ke Polda melalui bidang Propam. Karena penganiayaan dengan kasus terpisah. Untuk kasus dugaan penganiyaan, keluarga berhak melaporkan ke Propam. Namun, proses hukum silahkan berjalan, kami tidak akan berhenti berupaya mencari keadilan.” Selanjutnya pihak pemohon juga akan membawa lampiran putusan ini ke Pengadilan Tinggi (PT) atau ke Mahkamah Agung (MA).



“Putusan ini akan kami ajukan ke Pengadilan Tinggi atau ke Mahkamah Agung. Persoalannya adalah kenapa Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak memberitahu tersangka setelah kasusnya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri ini. Sehingga tersangka terkesan dipaksakan sidang hari ini. Mestinya tersangka diberitahu dulu jika akan dilaksanakan sidang sesuai aturan yang ada,” sesalnya.

Kemudian Mulyadi juga menyikapi hal ini seakan sengaja ingin menggugurkan praperadilan.

“Jadi ini terkesan mau menggugurkan sidang praperadilan. Karena pelimpahan berkas pokok perkara pada 30 Desember, sedangkan seharusnya ada sidang pertama praperadilan pada tanggal tersebut, namun ditunda karena termohon tidak hadir. Setelah itu dijadwalkan ulang hari ini sehingga berbarengan dengan sidang pokok perkara,” beber kuasa hukum pemohon.





“Menurut saya pribadi selaku kuasa pemohon, penegak hukum sampai tingkat pengadilan di kota prabumulih ini sangat buruk, dan saya anggap curang dan tanda kutip ‘Kotor,” kata Mulyadi lagi seraya menambahkan satu hal lagi yang disesalkannya kenapa sidang perkara praperadilan masih dilanjutkan kalau kenyataannya sidang tersebut sudah gugur.

“Kenapa masih ada sidang praperadilan dan dibuka oleh hakim disertai putusan jika sidang tersebut dinyatakan gugur, mestinya tidak usah diadakan sidang praperadilan lagi.” Pungkasnya. (Raif)

Editor: Rasman Ifhandi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ada yang bisa kami bantu?