Cerpen Kiriman Sahabat “Kisah Dua Dewi”

Listen to this article

Cerita Dua Dewi

Julia Dewi Purnama mengenakan kebaya modern baru keluaran butik perancang terkenal. Rambut dan wajahnya ditata sempurna. Gadis berusia tujuh belas tahun itu semakin mempesona di hari Pelepasan Kelas XII SMU Saraswati.
“Julia itu siswa kebanggaan kami. Nilai-nilai pelajarannya selalu bagus. Tidak pernah bikin masalah selama bersekolah di sini,” kata kepala sekolahnya, senada dengan kata guru-guru yang pernah mengajarnya.
“Kepribadiannya baik sekali. Julia itu tidak pernah bermasalah dengan siapapun. Oiya, dia juga hebat, berhasil masuk fakultas kedokteran di Universitas Indonesia. Lewat jalur raport, tanpa test,” puji psikiater yang merangkap guru BP di SMU Saraswati.
“Ramah anaknya. Sopan. Gak belagu walaupun diantar jemput pakai sedan BMW,” kata satpam penjaga gerbang sekolah.

Baca Juga: Tragedi Pembunuhan di Diva Karaoke

“Julia itu te o pe. Baiiiik banget. Gak pelit kalau kita pinjam pe er atau buku catatannya. Kita minta ajarin pun, kalau memang dia sempat, pasti dia mau,” tutur teman-temannya.
“Dia tidak punya pacar karena memang mau fokus belajar dulu. Dia tidak pernah perhitungan kalau jajanin saya. Julia itu orangnya pengertian banget,” ucap sahabatnya yang sudah dekat dengannya sejak kelas sepuluh.
Di tengah acara Pelepasan Siswa Angkatan 32 SMU Saraswati, Julia pamit hendak ke toilet. Dia meninggalkan auditorium dengan terburu-buru. Sahabatnya hanya mengira Julia nervous karena akan dinobatkan sebagai lulusan terbaik dan diminta berpidato mewakili angkatannya.

Baca Juga: Puisi Kiriman Sahabat

Julia tidak pernah kembali ke auditorium. Adik kelasnya yang bertugas sebagai sie. acara menemukan gadis itu terkapar di toilet dengan mata terbelak dan mulut berbuih.
“Yaa, Tuhan, kenapa Julia? Kenapa anak saya?” Ibu Julia meraung saat ditanyai polisi. Perempuan yang terkenal sebagai motivator itu histeris bagai hilang kewarasan.
“Pembunuhnya harus mati!” geram ayah Julia yang tidak kuasa menahan emosi. Wajah lelaki berpangkat Laksamana Pertama itu sekali-sekali basah air mata.
Polisi menemukan sisa racun dalam minuman kaleng yang ditemukan di wastafel toilet itu. Mereka terkejut saat menerima hasil analisa laboratorium forensik. Ada jejak DNA gadis selain Julia di kaleng tersebut.
“Dia jahat. Dia belah Hamtaro, hamster saya, hanya karena penasaran sama tidak anatominya dengan tikus putih,” ucap gadis yang kini jadi tersangka pembunuhan.
Gadis itu biasa dipanggil Novi. Parasnya secantik Julia, hanya saja jauh lebih pendiam sehingga kepala sekolah, guru-guru, satpam dan teman-temannya nyaris tidak bisa memberi kesaksian tentang bagaimana dia.
“Julia pernah menyiram kucing jalanan yang saya kasi makan.”
“Hanya karena hamster dan kucing, kamu tega racuni Julia?”
Tubuh Novi gemetar, tapi bibirnya menyungging senyum sinis. Sorot matanya nanar menatap polisi yang menginterogasinya.
“Dia tega racuni Lady, anjing saya, hanya gara-gara menggonggong saat dia sedang belajar!”
Ternyata Julia Dewi Purnama tidaklah sebaik dewi dimata Noviani Dewi Purnama, adik kandungnya.
“Novi, kamu mengaku telah membunuh kakakmu?”
“Saya capek. Mama papa pasti menyuruh saya belajar lebih keras supaya bisa seperti Julia. Saya ingin mati saja seperti Lady….”
Tangis Novi pecah berderai. Butuh sesaat untuk dia tenang dan melanjutkan, “Tetapi Julia tetiba muncul di toilet, mendorong saya. Katanya, ‘Gue duluan, mau pidato’, lalu dia juga rebut minuman saya….”
Jakarta, 4 Oktober 2020

Maria

***

 

Bagi rekan-rekan PENCINTA dan penggiat literasi, jika berminat tulisannya di publish di website ini, silahkan hubungi kami melalui whats app, tulisan tidak dibatasi, bisa Puisi, Artikel, Cerpen, Cerbung, Opini dan lain-lain.

Selamat berkarya, berbagi itu indah. (Rasman Ifhandi/Hans)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *