Tradisi Menyambut Bulan Puasa yang Mulai Memudar di Kota Prabumulih

Listen to this article

PRABUMULIH. Lembayungnews|. Tradisi menyambut bulan suci Ramadhan yang mulai tergerus oleh waktu dan keadaan.

Kota Prabumulih adalah kota yang bisa dikatakan berpenduduk heterogen, berbagai macam marga, ras, suku, agama ada di kota transit ini. Kota yang terkenal dengan buah Nanas nya dan juga berbagai macam kuliner yang ada di kota ini.

Meskipun menurut sejarah, kota prabumulih ini didirikan oleh puyang Rambang dan Belido, namun sekarang penghuni kota kecil ini boleh dibilang dari hampir semua ke 34 provinsi di indonesia ada di sini.

Seperti dari kepulauan sumatra, dari 10 provinsi di pulau sumatra sudah menjadi penduduk tetap kota Pehabung Uleh (sebutan untuk kota ini sebelum berganti menjadi Prabumulih).

Sepuluh provinsi di Pulau Sumatera 9 diantaranaya meliputi:

Nanggroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Kepulauan Riau
Jambi
Bengkulu
Kepulauan Bangka Belitung
Lampung

Dari ke sembilan wilayah tersebut, warga yang berasal dari Sumatra Barat yang paling banyak penduduknya, dan sekarang sudah menjadi warga tetap serta berdiam dan berusaha di prabumulih.

Dan semua memiliki tradisi yang berbeda dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Sedangkan dari pulau jawa ada 6 provinsi yang kita ketahui Enam provinsi di Pulau Jawa meliputi:

Banten
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
DI Yogyakarta

Dari ke enam provinsi tersebut, yang lebih mendominasi adalah penduduk yang berasal dari Jawa Barat, dan jawa tengah. Mereka sudah menjadi warga terap di kota kecil yang potensial dan serba maju dalam segala bidangnya. Selebihnya dari Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Karena selain berprofesi sebagai pedagang, banyak penduduk kota ini yang juga menjadi pegawai di pertambangan, baik itu pengeboran minyak, atau batubara.

Istilah yang melekat buat kota ini, entah ini berkonotasi negatif atau positif. Namun sudah sangat sering penulis mendengar kiasan ini dari beberapa orang besar kota ini, yakni Kota Prabumulih ini laksana ‘Lubuk kecik buayo banyak’. Mungkin maksudnya sebagai kota yang tergolong kecil namun penghuninya banyak orang yang pintar.

Secara geografis kota ini terletak antara 3°20’09,1” – 3°34’24,7” lintang selatan dan 104°07’ 50,4” – 104°19’41,6” bujur timur, dengan luas daerah sebesar 434,50 km², memiliki penduduk ± 200.000 jiwa (2019) dengan luas 435,10 km² dan merupakan kota ketiga terbesar di Sumatra Selatan.

Berikut kami rangkum beberapa tradisi menjelang Ramadhan di Kota tercinta ini.

Ruwahan

Nah, dalam menyambut bulan Ramadhan masih teringat saat kecil dulu di kampungku sering melakukan tradisi yang disebut Ruwahan. Sebenarnya tradisi ini bukan asli berasal dari kota ini, namun di adopsi dari wilayah Jawa Tengah.

Dalam menjalankan tradisi ini, warga biasanya menjalankan doa bersama, yakni menggelar kegiatan tahlilan dan yasinan dari rumah ke rumah, musala ke musala, ataupun di masjid secara berjemaah. Tradisi ini merupakan bagian dari kebiasaan nenek moyang terdahulu, dan sebagai perwujudan akulturasi yang dilakukan Wali Songo (Wali Sembilan).

Tradisi ruwahan sendiri itu mengandung makna bahwa bulan Syakban (bulan sebelum puasa Ramadan) menjadi bulan untuk berbagi kasih dan sedekah. Setiap keluarga biasanya membuat makanan seperti nasi berkat, ketan, apem, dan lain sebagainya. Mereka kemudian membagikan kepada tetangga kiri kanan atau sanak saudara, baik sesudah dan sebelum acara tahlil maupun yasinan bersama

Namun akhir-akhir ini makin sedikit warga kampung ku yang menggelar acara Ruwahan ini, baik di Surau/ Langgar, atau di Masjid-Masjid.

Penjual Bunga di pekuburan

Tradisi yang juga menjadi ciri khas kota ini adalah berziarah ke makam orang tua atau keluarga pada saat menjelang Ramadhan. Hal ini dimanfaatkan oleh para pedagang bunga sehingga bisa kita lihat hampir di setiap pemakaman banyak pedagang bunga yang membuat lapak, karena banyak penziarah yang akan datang membersihkan makam keluarganya.

Penghasilan dari menjual bunga-bunga itu cukup lumayan besar, sehingga kesempatan itu menjadi incaran sebagian orang untuk meraup rejeki dari hasil menjual bunga di pekuburan.

Pawai Obor dan Pesantren Ramadhan

Dahulu dalam menyambut bulan puasa anak-anak kampung yang belum mengenal gadget mulai berencana masuk ke hutan untuk mencari bambu, karena biasanya menjelang Ramadhan akan ada acara pawai obor keliling kampung atau konvoi di jalan jendral sudirman. Namun saat ini kegiatan seperti itu nyaris hilang bahkan boleh dibilang sudah tidak ada lagi di kota ini.

Kegiatan anak-anak remaja menjelang Ramadhan biasanya sudah menyiapkan sebuah acara yang bertajuk pendidikan yakni yang dikenal dengan istilah Pesantren Kilat, atau Pesantren Ramadhan. Yang biasanya dilaksanakan selama 3 hari sampai 1 minggu.

Dengan mengundang para remaja yang aktif di masjid atau Irmas, atau juga anak sekolah tingkat SMP dan SMA. Selain bersilaturahmi mereka juga mendapatkan pelajaran tambahan dari para ustadz ternama, biasanya acara ditutup dengan melakukan berbuka puasa bersama.

Demikian sekilas beberapa tradisi menjelang bulan suci Ramadhan di kota ini. Seiring berjalannya waktu, semakin maju nya zaman di era digital ini, ditambah lagi dengan kondisi negara yang sedang dilanda Pandemi, hampir semua tradisi itu hilang dan lenyap tak berbekas, sebagai ciri khas daerah yang senantiasa selalu menjunjung tinggi asas menjalin tali silaturahmi.

Prabumulih adalah kota yang termasuk tercepat kemajuannya dalam segala bidang, baik pendidikan, entertainment, perdagangan dan kulinernya. Tentu kita harus melihatnya dari skala perspektif global, bukan melihat dari pandangan sempit tentang, (misal) beberapa kegagalan dalam pembangunan dan lain-lain.

Dari segi pendidikan, kota prabumulih tidak ketinggalan dengan kota dan kabupaten lain. Di kota ini tercatat di situs kemendikbud, Jumlah Data Satuan Pendidikan (Sekolah) per Kabupaten/Kota adalah;

Untuk Jenjang PAUD, KB, SPS, TK/RA, TPA sebanyak 132 dengan status Negeri 4 sekolah dan sisanya Swasta.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)
KB (Kelompok Bermain)
SPS (Satuan Paud Sejenis)
TK (Taman Kanak-Kanak)
TKA (Taman Kanak-Kanak Alquran)
RA (Raudhatul Athfal)

SD sederajat 86 Negeri 20 Swasta

SMP sederajat 13 Negeri 17 Swasta

SMA sederajat 9 Negeri 9 Swasta

SMK 3 Negeri 10 Swasta dengan total 167 Sekolahan

Selain itu di kota nanas ini ada 6 Perguruan Tinggi yang siap menghantarkan penduduknya menjadi anak-anak yang berpendidikan tinggi tanpa harus keluar kota perguruan tinggi tersebut,  yakni;

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Prabumulih

STMIK Prabumulih

Sekolah Tinggi Ilmu Teknik (STIT) Prabumulih

Akademi Kebidanan Rangga Husada Prabumulih

Akademi Kebidanan Budi Mulia Prabumulih

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Al Furqoon Prabumulih Sumatera Selatan.

Semua itu patut kita apresiasi sebagai sebuah kemajuan bagi kota kita tercinta Prabumulih. Mari kita lestarikan tradisi yang ada tanpa keluar dari aqidah, karena setiap daerah tentu mempunyai tradisi sebagai ciri khas untuk menjadi pembeda dengan daerah lain. (Raif)

Editor : Rasman Ifhandi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *